Jumat, 13 Desember 2013

Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah


Tugu Muda Semarangterletak di tengah persimpangan Jalan Pandanaran, Jalan Mgr Sugiopranoto, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda dan Jalan Dr. Sutomo. Sebelah Utara Tugu Muda ini terdapat Gedung Pandanaran di sebelah Timur terdapat Lawang Sewu, di sisi selatan berhadapan dengan Museum Mandala Bhakti, serta di sebelah barat Tugu Muda terdapat Wisma Perdamaian, Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah dan Gereja Katedral Semarang
Tugu Muda adalah sebuah monumen yang dibuat untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarangmelawan penjajah Jepang. Tugu Muda ini menggambarkan tentang semangat berjuang dan patriotisme warga Semarang, khususnya para Pemuda yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada Umumnya dan mempertahankan kota Semarang pada khususnya. 

Sejarah 
Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945, oleh Mr. Wongsonegoro (Gubernur Jawa Tengah) pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali,namun karena kesulitan dana, ide ini juga belum terlaksana. 
Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi tempat terjadinya peristiwa pertempuran lima hari di semarang yakni di pertemuan Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran dengan Lawang Sewu seperti lokasi sekarang ini. Akhirnya pada tanggal 10 Nopember 1951, Gubernur Jawa Tengah Boediono meletakkan batu pertama di lokasi yang baru ini.
Tugu muda diresmikan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, oleh Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan reliefpada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari Kaliurang dan Paker.

Arsitektur
Tugu Muda berbentuk seperti lilin yang mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Bentuk Tugu muda merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu.
Untuk mempercantik Tugu Muda, dibangunlah sebuah taman yang mengelilingi Tugu Muda. Di taman ini di beri beberapa ornamen supaya tugu muda dapat dijadikann sebagai taman kota, antara lain ada air mancur, lampu-lampu warna putih dan kuning yang akan menambah kesan anggun di malam hari. Pada taman terdapat pohon cemara, duplikasi senjata bambu runcing yang tegak berdiri berjajar sebanyak 5 (lima) buah yang menggambarkan Pertempuran lima hari di Semarang dengan bersenjatakan bambu runcing.
Pada bagian kaki tugu terdapat relief dengan lima buah sangga pilar,yang kecuali dipergunakan untuk menggambarkan berbagai macam relief,juga dimaksudkan sebagai lambang Pancasila
Pada tiap-tiap sangga terdapat hiasan-hiasan yang berbeda satu dengan yang lain yaitu:
  Relief Hongerodeem
Menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang sangat tertindas dan banyak yang menderita kelaparan,hingga hongerodeem atau penyakit busung lapar merajalela di kalangan masyarakat
       Relief Pertempuran
Menggambarkan betapa besar gelora semangat serta keberanian para pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan negara dan bangsanya
  Relief Penyerangan
Melambangkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajahan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan
  Relief Korban
Menggambarkan bahwa dalam pertempuran Lima Hari di Semarang, banyak rakyat yang menjadi korban.
  Relief Kemenangan
Menggambarkan hasil jerih payah dan pengorbanan yang telah membasahi kota Semarang

Kalau anda berkunjung ke Semarang, sebaiknya sempatkan waktu untuk mengunjungi dan melihat Ikon Kota Semarng ini...:-)

Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Ketika masih kuliah di jurusan Arsitektur, saya sudah ingin sekali mengunjungi ke salah satu bangunan bersejarah yang berciri arsitertur Gothic ( maaf..bukan Goyang Itik...hehe ), terletak di tengah Kota Semarang, Jawa Tengah. Bangunan ini juga termasuk dalam bangunan konservasi yang dilindungi seperti yang tertuang di Surat Keputusan Walikota Semarang no. 650/50/1992 dan Undang Undang no. 5 tahun 1992 yang diperbarui dengan Undang Undang no.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Untuk menuju bangunan ini bisa ditempuh dari berbagai arah dan berbagai cara :
   1. Dari  arah Selatan  kota  Semarang ( dari arah Solo ), turun
       di Sukun  atau  swalayan Ada-Banyumanik terus naik  BRT
       koridor II dan turun di halte Tugu Muda
   2. Dari arah Barat  kota Semarang ( dari  arah Kendal ), turun
       di  Terminal Mangkang  lalu  naik BRT  koridor I  dan turun
       di halte Tugu Muda
   3. Dari arah Timur  kota  Semarang ( dari  arah  Purwodadi ),
       turun di terminal  Penggaron  lalu  naik BRT koridor I  dan
       turun di halte Gereja Katedral atau halte Tugu Muda.
   4. Dari arah  Utara  kota  Semarang ( dari  arah  Demak  atau
       Kudus), turun  di  terminal Terboyo  lalu  naik BRT koridor I
       dan turun di Tugu muda
Bangunan yang dibangun pada 1904 sampai 1907, dulunya bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij ( NIS ) atau Jawatan Kereta Api yang berada di Wilhelminaplein ( sekarang: bundaran Tugu Muda). Disebut LawangSewu dikarenakan bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar yang besarnya lebih mirip pintu (jawa: Lawang )
Pada masa perjuangan kemerdekaan yaitu pada pertempuran 5 hari di Semarang (14 - 19 Oktober 1945 ), bangunan ini pernah menjadi lokasi pertempuran hebat antara AMKA ( Angkatan Muda Kereta Api ) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Setelah kemerdekaan, pernah menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia /DKRI ( sekarang : PT Kereta Api Indonesia ) dan Kantor Badan Prasarana KODAM IV/ Diponegoro.
     Bangunan Lawang Sewu secara arsitektur memang sangat indah dan menarik, tetapi sayangnya yang membuat terkenal dan menarik justru cerita mistis nya. Bahkan ada film yang menceriterakan tentang mistis dan angkernya nya bangunan ini dan ada juga siaran TV swasta nasional yang mengadakan siaran  Uji Nyali dengan lokasi di sini. 
Sebelum dipugar, bangunan ini tidak terawat dan tertutup untuk umum, tetapi setelah dipugar tempat ini menjadi kelihatan bersih dan mulai dibuka untuk umum.
     Dengan dibuka nya tempat ini untuk umum, berarti terbukalah kesempatan saya untuk mewujudkan keinginan untuk bisa mengunjungi bangunan ini, sekaligus membuktikan tentang cerita mistis yang sering dihembuskan oleh banyak media dan paranormal.
Setelah sebelumnya membuat janji dengan petugas yang berjaga di LawangSewu, sekitar jam 21.30 saya tiba di lokasi.  Tujuan pertama saya adalah menikmati keindahan arsitektur gothic nya dengan mengelilingi komplek bangunan, setelah cukup puas menikmati keindahan bangunan, maka saatnya ke tujuan ke dua yaitu ke ruang bawah tanah yang kata banyak orang banyak hantu nya.......:-D
Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 23.00, setelah sebelumnya memakai sepatu boots dan ditemani seorang pemandu, mulailah penjelajahan ruang bawah dari bangunan LawangSewu. Dari pemandu yang saya lupa namanya ( maaf ya mas...:-D ), meluncurlah banyak informasi tentang sejarah ruang bawah tanah ini.
     Ruang bawah tanah dari bangunan LawangSewu yang terdiri dari 8 ruangan bagian kanan dan 8 ruangan bagian kiri. Setiap ruangan terdiri dari 16 kotak kolam berukuran 1,5 x 1,5 meter dan dalam sekitar 60 cm, pada awal berdirinya digunakann sebagai ruang penyimpanan air yang sekaligus berfungsi sebagai pendingin dan penyejuk bagi ruangan ruangan di atas nya, sehingga semua ruangan di LawangSewu walaupun tidak memakai AC akan tetap terasa sejuk, meski suhu diluar bangunan sangat panas.
   Ketika jaman penjajahan Jepang, ruang ini berubah fungsi menjadi Penjara Bawah Tanah. Dimana 5 -9 orang dimasukkan dalam sebuah kotak kolam kemudian diisi air sebatas leher dan ditutup pintu besi. karena banyaknya yang ditangkap maka Jepang juga membuat penjara berdiri yang jumlahnya cukup banyak, dimana mereka berdesakan berdiri kemudian ditutup pintu besi sampai mereka mati. Jika dalam seminggu, diantara mereka ada yang masih hidup ( penjara jongkok maupun berdiri ), maka kepala mereka akan dipenggal dalam ruangan khusus dan mayat nya dibuang di sungai sebelah gedung ( kali Semarang ).
   Perjalanan berkeliling di ruang bawah tanah sangatlah menarik, karena ternyata bangunan LawangSewu disamping memiliki Arsitektur yang indah juga memiliki Fisika Bangunan dengan teknik yang hebat dan ramah lingkungan. Salut dan salam hormat untuk Prof. Jacob F. Klinkhamer ( TH Delft ) dan B.J. Quendag yang meng-arsitek-i bangunan ini..Hebat sekali pemikiran dan rancangan anda...:-)
Tidak terasa waktu sudah hampir jam 01.00, tapi...mana hantu nya yaa???? jangan kan nongol, ngintip aja juga kagak.....
Karena sudah larut malam, mending cari kopi di taman Tugu Muda aja dech.., yang terletak di seberang jalan dari gedung LawangSewu....
Ayo.....datang aja  ke LawangSewu, kota Semarang....:-D

Jumat, 30 Agustus 2013

Cimory - Bawen, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Ketika perjalanan dari Semarang ke Solo, sesampai di daerah Bawen, saya melihat seekor sapi yang montok dan sexy  lagi "nongkrong" di atap sebuah restaurant, seperti sapi di pasar Sunggingan, Boyolali tuh...:-) 
Selintas terpikir, wah itu sebuah strategi promosi yang cukup jitu.. Karena penasaran, saya berhenti sebentar untuk melihat dan disitu tertulis nama restaurannya yaitu Cimory..Lho, koq namanya seperti nama sebuah resto di daerah Puncak- Bogor??
Klo melihat logo dan tulisannya sich emang sama, tapi apa Cimory di Jalan Raya Sukarno Hatta, Bawen, Kab. Semarang ini sama  dengan yang di Puncak - Bogor ya??
Penasaran pengin mencoba tapi mengingat ada keperluan penting di Solo, terpaksa saya tunda rasa penasaran itu...,Awas kamu ya!!! Tunggu kedatanganku...
Selang waktu seminggu, dengan tekad bulat, semangat 45 maka dengan semboyan "maju tak gentar" dan "maju perut pantat mundur", saya menuju lokasi. Setelah parkir, seekor sapi menyambut di pintu masuk. Mooooo........
Ketika menuju restaurannya ada sapi yang menyambut juga, di taman juga makin banyak sapi yang menyambut dengan bergaya seperti model dan peragawati. Bahkan ada yang rela dan mau di naiki lho... Tapi itu semua cuma KW alias patung dan mainan koq....:-D..
Sapi asli hanya ada di kandang yang terletak di bagian paling belakang dari restauran dan dekat dengan kebun binatangnya. Ada Kelinci, Merak dan Rusa.
Karena ada yang mulai mengadakan demo dan konser musik keroncong alias mulai kelaparan, saya menuju sasaran berikutnya yaitu restauran. 
Ehh, ternyata harga nya gak mahal dan rasanya lumayan juga lho...
Rasa penasaran sudah terlunasi, demo dan konser musik keroncong juga sudah tertangani, brarti saatnya pulang...tapi sebelum pulang mampir dulu ke swalayannya dulu..Yang istimewa disini adalah tersedia aneka susu, dari yang susu segar aneka rasa sampai yang susu olahan, seperti yogurt, cheese, cream cheese. Yang tidak tersedia disini adalah susu yang jualan...hehehehe
Klo bapak ibu, mas mbak, agan sista, boz biz ( hehe.. ) melewati daerah ini, tidak ada salahnya untuk mampir dan mencoba makanan dan menikmati suasananya....Klo tidak puas ya diulangi lagi aja sampai puas.....heheheh...:-D



Selasa, 06 Agustus 2013

Umbul Sidomukti, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Kawasan wisata umbul Sidomukti merupakan salah satu Wisata Alam Pegunungan di Semarang, berada di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini dengan didukung fasiltas & Servis: Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room.
Ada empat buah kolam yang bertingkat dan dapat dipilih sesuai kedalaman yang diinginkan. Airnya sangat dingin, jernih dan menyegarkan. Selain itu ditambah pula dengan beberapa sarana olahraga menantang keberanian di sisi kolam. Terdapat lintasan flying fox dengan dua pilihan track, marine bridge di lembah, rapeling menuruni lembah sisi kolam, dan ATV, kolam renang alami dan jalur trekking. Taman renang umbul alam Umbul Sidomukti terletak di lereng gunung ungaran dengan ketinggian 1200 dpl, diapit jurang dikedua sisinya.
Flying fox dengan panjang lintasan 110 meter, dengan jarak ketinggian dari titik terendah lembah sekitar 70 meter. Flying fox ini menyeberangi lembah, jadi seakan berpindah dari lereng bukit ke bukit di seberang dengan bergantung pada dua utas tali dan pengaman serta helm. Seperti biasa, flying fox dapat dilakukan dengan memilih gaya terlungkup seperti superman sedang terbang, atau gaya duduk biasanya. Tarif karcis flying fox lembah ini hanya 12.000 IDR, tak mahal untuk sekedar menguji keberanian.
Tiket parkir mobil 2.000 IDR. Tiket masuk untuk hari biasa 4.000 rupiah per orang dan 5.000 rupiah pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Ingin mencoba marine bridge? Siapkan 7.000 IDR untuk tiketnya. 6.000 IDR untuk rapeling, dan 15.000 – 20.000 IDR untuk 3x putaran ATV. Selain tiket reguler, pengelola juga menawarkan paket untuk kelompok berisi minimum 20 orang untuk corporate event seperti tracking.
Umbul Sidomukti dapat ditempuh dari arah Semarang menuju Solo, sampai menemukan pom bensin Lemah abang di sisi kiri jalan, belok kanan menuju ke arah Bandungan. Sampai di Pasar Jimbaran di sisi kiri, akan ada gang bertuliskan sidomukti di sisi kanan dengan jalan menanjak. Di sepanjang jalan kecil ada beberapa papan petunjuk untuk sampai ke Taman Renang Alam Umbul Sidomukti, Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang.
Bus ukuran besar tidak bisa masuk ke area ini karena jalannya sempit, bus mini atau bis ukuran kecil untuk masuk perlu sopir dengan kemampuan sangat bagus.
Keindahan pesona alam Kawasan wisata umbul Sidomukti memang mempesona, untuk jalan jalan keluarga maupun corporate event bisa menjadi salah satu tujuan wisata anda.

Minggu, 28 April 2013

Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT ), Semarang - Jawa Tengah


Masjid Agung Jawa Tengah adalah Masjidyang terletak di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini sangat megah dengan luas lahan mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi tersebut bargaya arsitektur perpaduan antara Jawa, Jawa Tengah dan Yunani

Sejarah
Masjid Agung Jawa Tengah ini dibangun pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto, akhirnya Masjid Agung Jawa Tengah Ini diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.
Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 Nopember 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah shalat jum’at untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, Kakanwil Depag Jawa Tengah.
Di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah Semarang ini terdapat Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di Tower Asmaul Husna Lantai 2 dan 3, Hotel Graha Agungdi sisi Utara dan resto yang memiliki view terbaik di Kota Semarang ini di Tower Asmaul Husna Lantai 18
Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Masjid dengan arsitektur indah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006. Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 m2 dan halaman seluas 7.500 m2.  
Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 15.000 ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2006. Upacara peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 m dan berat 7,8 ton yang terletak di depan masjid. Prasasti terbuat dari batu alam yang berasal dari lereng Gunung Merapi

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Jawa Tengah juga merupakan obyek wisata terpadu pendidikan, religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, pengunjung dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Roma dan Arab.

Arsitektur
Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter. Arsitektur Jawa terlihat pada beberapa bagian, misalnya pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan.

Ciri arsitektur Timur Tengah (Arab) terliat pada dinding masjid dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi. Selain itu, di halaman Masjid Agung Jawa Tengah terdapat 6 payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis yang merupakan adopsi arsitektur bangunan Masjid Nabawi yang terdapat di Kota Madinah.

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Fasilitas Masjid 
Selain bangunan utama masjid yang luas dan indah, terdapat bangunan pendukung lainnya. Bangunan pendukung itu di antaranya: auditorium di sisi sayap kanan masjid yang dapat menampung kurang lebih 2.000 orang. Auditorium ini biasanya digunakan untuk acara pameran, pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sayap kiri masjid terdapat perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum. Halaman utama masjid yang terdapat 6 payung hidrolik juga dapat menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.
Keistimewaan lain masjid ini berupa Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) dengan ketinggian 99 m. Menara yang dapat dilihat dari radius 5 km ini terletak di pojok barat daya masjid. Menara tersebut melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dipuncak menara dilengkapi teropong pandang. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati udara yang segar sambil melihat indahnya Kota Semarang dan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas.
Di masjid ini juga terdapat Al qur`an raksasa tulisan tangan karya H. Hayatuddin, seorang penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an dari Wonosobo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, ada juga replika beduk raksasa  yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Barat.
Di area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat berbagai macam fasilitas seperti perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah, pemandu wisata, museum kebudayaan Islam, cafe muslim, kios-kios cenderamata, buah-buahan, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam sarana hiburan seperti air mancur, arena bermain anak-anak, dan kereta kelinci yang dapat mengantarkan pengunjung berputar mengelilingi kompleks masjid ini.
Untuk memasuki kawasan Masjid Agung Jawa Tengah, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, jika pengunjung ingin memasuki area tertentu seperti Menara Asmaul Husna, pengunjung diwajibkan membayar Rp 3.000 per orang untuk jam kunjungan antara pukul 08.00 - 17.30 WIB. Dan apabila pengunjung datang pada jam 17.30 - 21.00 WIB tarif tersebut meningkat menjadi Rp 4.000 per orang. Bagi pengunjung yang ingin menggunakan teropong yang terdapat di Menara Asmaul Husna itu, maka pengunjung harus mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp 500,- per menit. Pada saat liburan, masjid banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis manca negara, khususnya muslim banyak yang meluangkan waktu berkunjung ke masjid ini untuk beribadah sekaligus berwisata.  





Sabtu, 13 April 2013

Vihara Buddhagaya, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Vihara Buddhagata Watugong adalah sebuah Vihara yang diresmikan pada 2006 lalu dan dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Vihara Buddhagaya Watugong terletak 45 menit dari pusat kota Semarang. Vihara ini memiliki banyak bangunan dan berada di area yang luas.
Salah satu ikon yang paling terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna), dimana didalamnya terdapat Buddha Rupang yang besar. Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter.
Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap empat penjuru angin. Hal ini bertujuan agar sang dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin.
Pada tingkat ketujuh terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia. Dibagian puncak pagoda terdapat Stupa untuk menyimpan relik (butir-butir mutiara) yang keluar dari Sang Buddha.
Bagian depan pagoda juga terdapat patung Dewi Welas Asih serta Sang Buddha yang duduk dibawah pohon Bodi.
Di Komplek Vihara juga terdapat cotage untuk para tamu menginap. Tepat di depan cotage terdapat Bangunan Dhammasala. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan untuk ruang aula serbaguna yang luas dengan sebuah panggung didepannya sedangkan lantai atas untuk ruang Dhammasala.
Pada bagian tembok pagar disekiling dhammasala terdapat relief yang menceritakan tentang paticasamupada.
Dengan melihat relief ini kita akan lebih mudah memahami konsep paticasamupada
  
Semuanya bagian dalam komplek Vihara ditata dengan rapi dipadukan dengan keasrian lingkungannya serta ditambah dengan keindahan arsitektur Tiongkok menjadikan tempat ini relatif menyenangkan untuk berziarah serta beribadah maupun sekedar mampir untuk istirahat melepas lelah karena dalam perjalanan.
Jika sedang berwisata ke Semarang, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengunjungi salah satu obyek wisata religi kota Semarang. Dijamin Joss Gandos Kothos Kothos Nganti mBledhos......( Pinjam istilah mbak Soimah )....:-D


Sabtu, 26 Januari 2013

Goa Kreo, Gunung Pati - Semarang, Jawa Tengah


Kawasan Wisata Goa Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang.
Setelah dibangunnya Waduk Jatibarang seluas 46,56 hektar, yang berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum, dan sebagai pembangkit tenaga listrik,  maka kawasan wisata goa kreo ini menjadi berada di tengah-tengah waduk, seperti pulau Samosir di tengah danau Toba ( Sumatra Utara ) atau seperti Gunung Kemukus di tengah waduk Kedung Ombo ( Jawa Tengah ).  
Untuk mencapai lokasi wisata ini
1.  Dari Semarang ( dari arah Kalibanteng, dari arah Sam Poo Kong, dari arah Mijen/Boja ), anda dapat naik angkot warna orange atau bis jurusan gunung pati atau Bus Rapit Transit ( BRT ) Koridor III , turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki ( apabila ingin menikmati keindahan alam nya )
2.   Dari Ungaran atau dari Arah Cangikiran, naik bis jurusan semarang via gunung pati, turun di pintu gerbang Kawasan Goa Kreo dan dilanjutkan dengan Ojek Motor atau berjalan kaki

Sejarah
Legenda Goa Kreo 
Konon Legenda Gua Kreo tak terpisahkan dengan legenda asal mula nama Jatingaleh, sebuah kelurahan di lereng Bukit Gombel, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Dikisahkan, dahulu seorang wali yang punya kemampuan lebih, seperti Sunan Kalijaga, dapat berkomunikasi dengan tumbuhan dan binatang. Bahkan, ada pula pohon-pohon yang dipercaya bisa berpindah tempat.
Menurut legenda, kayu jati yang akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak, adalah potongan kayu dari pohon jati yang berada di lereng Bukit Gombel. Ajaibnya, sewaktu Sunan Kalijaga akan mengambil kayu jati di kawasan tersebut, ternyata pohon jati itu sudah tidak ada.
Sunan Kalijaga kemudian mencari ke mana pohon jati itu berpindah. Dia terus mencari sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Sedangkan tempat asal pohon jati itu kemudian diberi nama Jatingaleh (bahasa Jawa) yang artinya ”jati berpindah”.

Akhirnya Sunan Kalijaga menemukan pohon jati yang berpindah itu, tetapi berada di tempat yang sulit untuk diambil. Dia kemudian bersamadi di dekat sebuah gua, hingga datang empat ekor kera, masing-masing berbulu merah, kuning, putih, dan hitam. Kera-kera itu menyampaikan niat baik ingin membantu Sunan Kalijaga mengambil pohon jati yang diinginkan. Sunan Kalijaga menerima bantuan mereka dengan senang hati, akhirnya pohon jati itu berhasil diambil dari tempat yang sulit. Saat Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya hendak membawa pohon jati itu ke Kerajaan Demak untuk dibuat saka guru Masjid Agung Demak, keempat kera itu menyatakan ingin ikut serta. Karena mereka bukan manusia, Sunan Kalijaga keberatan. Namun sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ( jawa : ngreho ) yang berarti ”memelihara” atau ”menjaga”. Dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal, dan sejak itu kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai pemelihara atau penjaga.
Sampai sekarang, Gua Kreo yang terletak di lereng Bukit Kreo, termasuk objek paling favorit yang didatangi pengunjung. Kedalaman gua mencapai 25 meter dari mulut goa. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, ada lagi sebuah gua bernama Gua Landak.
Gua Landak kedalamannya 30 meter. Tapi gua ini dibuat oleh pengelola Gua Kreo, bukan goa alami.
Jika pengunjung mempunyai keberanian, bisa menjajal memasuki goa ini untuk sekedar merasakan udara dingin dan lembab.
Setelah puas menelusuri goa, pengunjung bisa berjalan ke atas puncak Bukit Kreo. Disana pengunjung dapat menemukan monumen batu. Menurut masyarakat sekitar, monumen tersebut dibuat sebagai ‘tetenger’ kalau Sunan Kalijaga pernah menjejakkan kaki di Bukit Kreo.

Sejarah Gunung Pati
Nama Gunungpati diberikan oleh Kiai Pati, seorang prajurit dari Pati, yang membuka daerah ini. Gunung merujuk pada topografi wilayah ini, sementara Pati diambil dari namanya sendiri
Gunungpati pernah menjadi sebuah kabupaten. Hal itu dapat dibuktikan dari masih adanya dua pohon asam di tengah Alun-alun, sekitar 50 tahun lalu. Bahkan sampai sekarang, kita masih bisa menjumpai Kampung Ngabean, Pasar Kliwonan, Jagalan, dan Kauman di sekitar masjid, serta sebuah penjara bernama Sikrangkreng.
Di masa revolusi, Gunungpati adalah wilayah setenan dari asisten wedana wilayah Kawedanan Ungaran. Julukan bagi kepala pemerintahan Gunungpati adalah Pak Seten. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, wilayah Gunungpati menjadi bagian integral dari NKRI. Penduduk setempat ikut bergerilya melawan tentara penjajahan. Mereka membangun dapur umum secara sukarela, di sebuah rumah dekat makam Kiai Pati.
Status Gunungpati kemudian berubah dari kawedanan menjadi kecamatan di Kabupaten Semarang, tetapi pada pertengahan tahun 1980-an diminta bergabung dengan Kota Semarang

Flora dan Fauna
Karena Goa Kreo berlokasi di dataran rendah, untuk mencapai mulut goa pengunjung diharuskan menuruni anak tangga yang cukup banyak. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5 ribu per orang, pengunjung dapat meneruskan perjalanan menuju goa melalui anak tangga menurun yang lebar-lebar. Disitu pengunjung akan disambut dengan sekelompok kera atau monyet berbuntut panjang. Sepanjang perjalanan menuju goa, pengunjung akan diikuti oleh kera-kera yang jinak. Bahkan pengunjung bisa ikut memberi makan kera-kera tersebut. Asal saat membawa makanan jangan pakai kantong yang ditenteng karena si monyet akan merebut bawaan yang kita bawa. Disamping kanan dan kiri anak tangga banyak pepohonan tumbuh sehingga perjalanan menuju goa akan terasa sejuk.
Goa Kreo menyuguhkan keindahan gua yang masih alami. Pepohonan, udara sejuk dan kawanan monyet akan menyambut saat kita memasuki kawasan Goa Kreo. Wisata goa ini banyak menarik wisatawan domestik. Pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan goa tapi juga hamparan sawah karena sekeliling goa masih terdapat sawah yang luas
Monyet monyet yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), jenis yang sama dengan yang ada di Batu Cave, Malaysia. Monyet yang ada di sini termasuk monyet yang cukup jinak, dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo.
Di kawasan ini terdapat tebing dan jurang terjal yang bisa disaksikan dari mulut goa. Di bawahnya berkelok-kelok Sungai Kreo. Dari mulut goa perjalanan bisa dilanjutkan menuju air terjun dengan anak tangga yang berkelok-kelok juga dan menyempit. Anak tangga menuju ke air terjun sangat terjal. Apabila membawa seorang anak kecil lebih baik digendong. Air terjun setinggi 25 m tak henti mengalirkan air yang jernih masuk ke sungai dengan kondisi yang masih alami. Berbagai bebatuan dengan ukuran kecil hingga besar berserakan di Sunga Kreo yang mengalir di bawah air terjun.

Acara Tahunan
Setiap tahun di Goa Kreo diadakan tradisi kirab sesaji Rewanda dan napak tilas Sunan Kalijaga yang dilaksanakan masyarakat sekitar Goa Kreo. Kirab sesaji hasil bumi yang disusun menjadi tumpeng buah-buahan untuk makanan kera, tumpeng nasi dan replika kayu jati tiang Masjid Demak dikirab oleh warga masyarakat menuju pelataran parkir Goa Kreo. Kemeriahan tradisi ini melibatkan seluruh warga baik tua maupun muda. Dan tidak hanya menarik wisatawan lokal tetapi juga wisatawan mancanegara.

Sumber data dan Photo : ekowisataku.blogspot.com, suaramerdeka.com, visitsemarang.com , seputarsemarang.com